"Ma, ma. Apa nama untuk jembatan warna-warni yang ada dilangit itu?"
Ibuku menjawab,
"Nak, itu namanya pelangi"
"Ma, apa yang ada sebrang pelangi itu? Apa ada kota yang indah di sana?"
"Tentu saja, sayang. Kota itu namanya surga. Kota yang paling indah"
"Ma, aku ingin menyebrangi jembatan itu. Ayok. Ma"
"Tidak bisa, sayang. Jembatan itu hanya untuk orang yang sudah meninggal dan akan tinggal disurga untuk selamanya"
"Ma, apa semua orang akan meninggal? Termasuk mama dan aku?"
"Itu tentu, sayang."
Beberapa tahun kemudian,
Ibu pergi untuk selamanya,
Meninggalkan ku sendiri bersama ayah dan adikku,
Aku mulai untuk berpikir,
kalau Ibu sudah berada di kota indah yang pernah ibu katakan padaku.
Kali ini aku melihat pelangi,
Dipelangi itu aku melihat,
Wajah ibuku dalam balutan baju malaikat dengan sayap putih bersih.
Aku pun tersenyum,
Aku merindukannya,
Aku selalu berdoa,
Agar ku dapat bertemu dengannya,
Sekarang doaku sudah terkabul,
Walaupun itu dari jarak yang sangat jauh
Suatu hari aku akan menyebrangi pelangi itu dan bertemu dengan ibuku,
Suatu hari nanti...
Blog ini ku rencanakan untuk tempat ku menulis cerita fiksi, sajak, dan juga puisi yang ku buat. Aku tau aku bukan orang yang ahli dalam membuat sajak ataupun puisi. Tapi, seditaknya. Aku sama seperti kalian. Hanya manusia biasa...
Selasa, 19 Mei 2015
Lihat aku
Hei, lihat aku!
Aku disini!
Lihat aku!
Apa kau tak dapat melihatku?
Seharusnya aku tau itu...
Ku mohon...
Lihat aku...
Aku disini!
Lihat aku!
Apa kau tak dapat melihatku?
Seharusnya aku tau itu...
Ku mohon...
Lihat aku...
Hujan
By Erna Nugraheni
Aku dibenci,
Setiap ku datang ku dibenci,
Saat ku mulai menunjukkan tanda,
Mereka mulai mengeluh
Ku jatuhkan diriku,
Untuk memelukmu,
Tapi kau melindungi dirimu dengan payung,
Aku sadar,
Mereka membenci ku,
Mereka lebih senang dengan saudaraku yang hangat,
Ketimbang diriku yang dingin,
Aku hanyalah setitik air,
Yang menunggu waktu untuk jatuh,
Aku tak akan datang lagi,
Pada musim kemarau,
Aku bingung oleh kalian,
Saat tiba musim hujan,
Kalian meminta musim kemarau,
Saat tiba musim kemarau,
Kau memintaku untuk datang,
Apa yang akan terjadi jika ku tak ada?
Bisakah kalian bayangkan?
Apakah kalian sudah sadar sekarang?
Jika belum. Aku takkan memaksa
Aku memang dibenci,
Karna aku Hujan...
Aku dibenci,
Setiap ku datang ku dibenci,
Saat ku mulai menunjukkan tanda,
Mereka mulai mengeluh
Ku jatuhkan diriku,
Untuk memelukmu,
Tapi kau melindungi dirimu dengan payung,
Aku sadar,
Mereka membenci ku,
Mereka lebih senang dengan saudaraku yang hangat,
Ketimbang diriku yang dingin,
Aku hanyalah setitik air,
Yang menunggu waktu untuk jatuh,
Aku tak akan datang lagi,
Pada musim kemarau,
Aku bingung oleh kalian,
Saat tiba musim hujan,
Kalian meminta musim kemarau,
Saat tiba musim kemarau,
Kau memintaku untuk datang,
Apa yang akan terjadi jika ku tak ada?
Bisakah kalian bayangkan?
Apakah kalian sudah sadar sekarang?
Jika belum. Aku takkan memaksa
Aku memang dibenci,
Karna aku Hujan...
Terlahir lagi
Terlahir lagi
By Erna Nugraheni
Mereka semua tak menganggapku ada,
Padahal aku ada disana,
Apa gunanya aku ada bila aku tak pernah dianggap?
Setiap hari kulihat mereka berlalu lalang didepanku,
Aku menyapa mereka,
Tapi mereka tak pernah membalas sapaku,
Apa gunanya aku ada disini?
Teringat lagi saat ku dulu,
Melihat diriku yang tengah berbaring lemah,
Berbaring tak bergerak,
Orang disekitarku menangis,
Aku bilang pada mereka agar tak menangis,
Tapi mereka tak mendengarku,
Mereka juga tak melihatku,
Saat itu ku bertanya,
Apakah aku sudah mati?
Pertanyaanku tak dijawab,
Aku dan ragaku sudah berpisah,
Aku menangis,
Karna ku tak bisa menghadapi kenyataan.
Tuhan, aku tak tahan menghadapi ini,
Aku ingin dilahirkan lagi,
Dilahirkan kembali sebagai gadis kecil yang mungil,
Tuhan, dengarkanlah doaku ini.
Kabulkanlah permintaanku ini.
Aku hanya meminta
Untuk dilahirkan kembali,
Hanya itu,
Aku ingin terlahir kembali...
By Erna Nugraheni
Mereka semua tak menganggapku ada,
Padahal aku ada disana,
Apa gunanya aku ada bila aku tak pernah dianggap?
Setiap hari kulihat mereka berlalu lalang didepanku,
Aku menyapa mereka,
Tapi mereka tak pernah membalas sapaku,
Apa gunanya aku ada disini?
Teringat lagi saat ku dulu,
Melihat diriku yang tengah berbaring lemah,
Berbaring tak bergerak,
Orang disekitarku menangis,
Aku bilang pada mereka agar tak menangis,
Tapi mereka tak mendengarku,
Mereka juga tak melihatku,
Saat itu ku bertanya,
Apakah aku sudah mati?
Pertanyaanku tak dijawab,
Aku dan ragaku sudah berpisah,
Aku menangis,
Karna ku tak bisa menghadapi kenyataan.
Tuhan, aku tak tahan menghadapi ini,
Aku ingin dilahirkan lagi,
Dilahirkan kembali sebagai gadis kecil yang mungil,
Tuhan, dengarkanlah doaku ini.
Kabulkanlah permintaanku ini.
Aku hanya meminta
Untuk dilahirkan kembali,
Hanya itu,
Aku ingin terlahir kembali...
Selasa, 12 Mei 2015
Boneka
BONEKA
Boneka,
Kita hanya boneka,
Boneka ayah dan ibu,
Kita hanya mainannya,
Kita diatur olehnya,
Boneka,
Kita hanya boneka,
Boneka milik Tuhan,
Tuhan dengan sesuka hatinya memainkan kita,
Tuhan yang membuat kita,
Lalu, memberikannya pada ayah-ibu kita,
Apakah kita punya kuasa untuk melawan,
Apakah kita punya,
Tentu saja tidak,
Karena kita hanya boneka,
Kita hanya boneka,
Bagaikan sebuah boneka,
Hanya boneka
Boneka,
Kita hanya boneka,
Boneka ayah dan ibu,
Kita hanya mainannya,
Kita diatur olehnya,
Boneka,
Kita hanya boneka,
Boneka milik Tuhan,
Tuhan dengan sesuka hatinya memainkan kita,
Tuhan yang membuat kita,
Lalu, memberikannya pada ayah-ibu kita,
Apakah kita punya kuasa untuk melawan,
Apakah kita punya,
Tentu saja tidak,
Karena kita hanya boneka,
Kita hanya boneka,
Bagaikan sebuah boneka,
Hanya boneka
Teater
Teater
Aku menonton sebuah teater.
Teater yang amat besar.
Aku terkagum,
Dan aku bertanya,
Siapakah yang telah membuat naskah sehebat ini
Ada teater drama lagi,
Kali ini teater itu berjudul kematian,
Aku terkagum,
Semua pemerannya melaksanakan dengan baik,
Aku kembali bertanya,
Apakah aku bisa ikut didalam peran itu
Aku tersadar,
Ternyata aku ikut didalam teater itu,
Aku terheran,
Jika aku ikut dalam teater itu,
Apa peranku? Mana naskah ku?
Aku tersadar,
Teater itu disebut kehidupan dan kematian,
Panggung teater itu adalah bumi ini,
Pemerannya adalah kita,
Naskahnya adalah takdir,
Perannya adalah nasib,
Dan akhirnya ku tahu,
Siapa yang membuat naskah itu,
Yang membuatnya adalah Tuhan,
Tuhan, engkau hebat dalam membuat teater yang sangat besar iniini
Aku menonton sebuah teater.
Teater yang amat besar.
Aku terkagum,
Dan aku bertanya,
Siapakah yang telah membuat naskah sehebat ini
Ada teater drama lagi,
Kali ini teater itu berjudul kematian,
Aku terkagum,
Semua pemerannya melaksanakan dengan baik,
Aku kembali bertanya,
Apakah aku bisa ikut didalam peran itu
Aku tersadar,
Ternyata aku ikut didalam teater itu,
Aku terheran,
Jika aku ikut dalam teater itu,
Apa peranku? Mana naskah ku?
Aku tersadar,
Teater itu disebut kehidupan dan kematian,
Panggung teater itu adalah bumi ini,
Pemerannya adalah kita,
Naskahnya adalah takdir,
Perannya adalah nasib,
Dan akhirnya ku tahu,
Siapa yang membuat naskah itu,
Yang membuatnya adalah Tuhan,
Tuhan, engkau hebat dalam membuat teater yang sangat besar iniini
Langganan:
Postingan (Atom)
