Sabtu, 14 November 2015

Adventuress find the mystery in school (part 1 from chapter1)

Una adalah gadis yang akan menginjak usia 15 tahun. Ia bersekolah di sekolah menengah pertama terfavorit di daerahnya.

Sejak kecil ia memiliki keanehan atau kelebihan yang dimilikinya. Sejak kecil ia bisa menebak segala sesuatu dengan benar bahkan sesuatu hal yang tak terlihat pun ia dapat menebaknya. Selain itu ia juga dapat membaca pikiran orang lain. Lalu ia juga dapat mengendalikan suatu elemen yaitu elemen angin. Jangan pikir ini the legend of aang. Tapi ia tak pernah menggunakannya dimana pun.

Saat mengikuti suatu pembiasaan di sekolahnya ia sengaja bermeditasi untuk mengumpulkan tenaga dalam. Dalam meditasinya tak sengaja ia mendapatkan suatu bayangan pintu dengan gagang pintu yang antik dan berwarna emas. Pintu itu terbuka. Didalamnya terdapat bola seukuran bola basket dan bercahaya merah terang. Selain itu disana terdapat meja yang diatasnya terdapat buku yang usang. Saat ia ingin menyentuh buku itu. Ia merasa tertarik keluar dan saat ia mencoba sekali lagi untuk masuk ia tak dapat masuk. Lalu ia menyimpan rahasai ini. Mungkin ia akan mengungkapkannya suatu saat.
.
.
.
Jam pulang sekolah telah berdering. Ia keluar kelas dan menuju kelas sahabatnya. Ia menunggu sahabatnya didepan kelasnya.

Sahabatnya bernama Ruka. Ruka sudah menjadi sahabatnya sejak dikelas 1 SMP. Ruka menjadi sahabatnya karena Rukalah yang pertama kali membujuk Una untuk mencoba menggunakan Telepati. Una menerima bujukan Ruka Dan melakukan apa yang diminta. Saat Ruka tau kalau Una dapat melakukannya. Ruka terkejut dan mengetahui kalau Una memiliki keistimewaan. Mulai dari situlah Una dan Ruka bersahabat. Una bisa menceritakan apapun masalah yang berhubungan dengan hal goib kepada Ruka karena Ruka akan mendengarkannya.

Ruka keluar kelas dan mendapati Una sedang menunggunya. Kelihatannya Una sedang tidak fokus dan juga pandangan mata Una kosong. Sepertinya Una sedang melamun.. itulah yang dideskripsikan oleh Ruka.

Ruka menghampiri Una dan menepuknya. Membuyarkan lamunan Una.
"Una, lo gak napa-napa 'kan?" Tanya Ruka khawatir.
"Gak napa-napa kok," jawab Una.
"Ada masalah ya?" Tanya Ruka sekali lagi.
"Ng-ngak kok!" jawab Una gugup.
"Una, jangan bohong deh. Gue tau lo kok. Gue tau semua tentang lo. Udah cerita aja ama gue," kata Ruka.
"Oke, gue cerita. Tapi, kita ke Niluh dulu."
.
.
.
"Hey, Una, Ruka," sapa Niluh.
"Hei juga" balas Una dan Ruka.
"What happen?" Tanya Niluh.
"Gue mau cerita kekalian doang. Jadi, jangan bocorin tentang hal ini ya?" Pinta Una sembari mengacungkan jari kelingking untuk sumpah jari kelingking.
"oke, kita janji" perjanjian terikat saat jari kelingking mereka ditautkan.
"Gini, kan tadi pas pembiasaan...." dan Una mulai menceritakan apa yang dia alami pada saat pembiasaan. "Nah, gitu ceritanya. Bikin gue penasaran ama tuh ruangan. Mau bantu gue nyari ruangan itu gak?" Tanya Una diakhirnya.

Karena kedua memiliki rasa penasaran dengan apa yang diceritakan Una. Mereka percaya karena Una tak pernah berbohong tentang hal goib. Akhirnya mereka mensetujui untuk membantu Una mencari ruangan itu.
"Tapi ya, Na. Gue mau nanya. Tuh pintu yang lu liat itu ada disekitar sekolah ini gak?" Tanya Niluh.
"Nggg... gue rasa sih di sekitar sekolah deh..." jawab Una.
"Lu inget gagang pintunya kayak gimana gak?" Tanya Ruka.
Una mulai menggambarkan bentuk gagang pintunya. "... warnanya itu antara perak ama emas...."
"Kayaknya gue inget deh ama nih gagang pintu deh...," komentar Ruka saat melihat gambar gagang pintu yang digambar Una.
"Dimana?!" Seru Una dan Niluh bersamaan.
"... Tapi, dimana ya?" Tanya balik Ruka. Balasan dari Ruka itu telah membuat kedua temannya ge-gubrakan ria. "OH!! GUE BARU INGET!!" Teriak Ruka saat bisa mengingat tempatnya.
"Dimana?!" Sekali lagi seru kedua sahabatnya bersamaan.
"Kelas 7-3!! Iya, kelas 7-3!!" Jawab Ruka.
"Kalo gitu kita kesana sekarang!" Seru Niluh semangat.
"Tumben nih anak semangat banget. Biasanya kan kalo hal kayak gini aja udah ngeluh duluan... lah ini semangat. Salah makan kali ya nih anak" guman mereka gak jelas saat melihat salah satu sahabatnya semangat minta ampun membuat mereka bergumam bersamaan dan...
"Baik, ayo selidiki!" Sorak Una berdiri dan memberi tanda dimulainya misi mereka. Kemudian, Ruka ikut berdiri.

Sejak mereka berdiri dan berbincang itu sudah berada dilantai 2, sedangkan kelas 7-3 atau 7-C berada dilantai 3 lantai teratas disekolah mereka...

----To Be Continued----
Author Notes (A.n) : pasti kezel ya~~ sori~~ abis ide gue dah buntu~ mangap yaaa~~~ *timpuk bata ama reader blog*
Okay. Sampe disini dulu ya~~ silakan menunggu kelanjutannya~~ terima kasih telah membaca~~

Debaran

Kenapa?
Kenapa debaran ini terasa?

Saat kau tersenyum padaku,
Aku merasakan debaran ini
Kenapa ini?

Kalau diingat,
Dulu, aku anak bocah yang nakal,
Yang selalu memukulimu di manapun kita bersama,
Saat kau menghilang,
Aku jadi tak punya sasaran untuk memukul.
Akhirnya, aku memukul tembok,
Hingga tembok itu retak.

Dan kenapa saat kau kembali?
Aku merasakan ini?
Saat kau semakin jauh dariku,
Aku sering merasa sedih,
Kenapa?

Aku tak tahu ini?
Tolong, beritahu aku!
Kenapa? Kenapa harus seperti ini?

Langit Kosong

Langit malam yang gelap,
Ditambah tak adanya bintang,
Bulan pun tak terlihat nampak,
Sepi malam ini,
Tanpa kau disini,
Hanya bertemankan suara jangkrik dan hewan malam lainnya,
Aku berharap kau ada disini,
Bercanda-tawa bersama,
Seperti dulu...

Selasa, 19 Mei 2015

Pelangi

"Ma, ma. Apa nama untuk jembatan warna-warni yang ada dilangit itu?"
Ibuku menjawab,
"Nak, itu namanya pelangi"
"Ma, apa yang ada sebrang pelangi itu? Apa ada kota yang indah di sana?"
"Tentu saja, sayang. Kota itu namanya surga. Kota yang paling indah"
"Ma, aku ingin menyebrangi jembatan itu. Ayok. Ma"
"Tidak bisa, sayang. Jembatan itu hanya untuk orang yang sudah meninggal dan akan tinggal disurga untuk selamanya"
"Ma, apa semua orang akan meninggal? Termasuk mama dan aku?"
"Itu tentu, sayang."

Beberapa tahun kemudian,
Ibu pergi untuk selamanya,
Meninggalkan ku sendiri bersama ayah dan adikku,
Aku mulai untuk berpikir,
kalau Ibu sudah berada di kota indah yang pernah ibu katakan padaku.

Kali ini aku melihat pelangi,
Dipelangi itu aku melihat,
Wajah ibuku dalam balutan baju malaikat dengan sayap putih bersih.
Aku pun tersenyum,
Aku merindukannya,
Aku selalu berdoa,
Agar ku dapat bertemu dengannya,
Sekarang doaku sudah terkabul,
Walaupun itu dari jarak yang sangat jauh

Suatu hari aku akan menyebrangi pelangi itu dan bertemu dengan ibuku,
Suatu hari nanti...

Lihat aku

Hei, lihat aku!
Aku disini!

Lihat aku!

Apa kau tak dapat melihatku?
Seharusnya aku tau itu...

Ku mohon...
Lihat aku...

Hujan

By Erna Nugraheni

Aku dibenci,
Setiap ku datang ku dibenci,
Saat ku mulai menunjukkan tanda,
Mereka mulai mengeluh

Ku jatuhkan diriku,
Untuk memelukmu,
Tapi kau melindungi dirimu dengan payung,

Aku sadar,
Mereka membenci ku,
Mereka lebih senang dengan saudaraku yang hangat,
Ketimbang diriku yang dingin,

Aku hanyalah setitik air,
Yang menunggu waktu untuk jatuh,

Aku tak akan datang lagi,
Pada musim kemarau,

Aku bingung oleh kalian,
Saat tiba musim hujan,
Kalian meminta musim kemarau,
Saat tiba musim kemarau,
Kau memintaku untuk datang,

Apa yang akan terjadi jika ku tak ada?
Bisakah kalian bayangkan?
Apakah kalian sudah sadar sekarang?
Jika belum. Aku takkan memaksa

Aku memang dibenci,
Karna aku Hujan...

Terlahir lagi

Terlahir lagi
By Erna Nugraheni

Mereka semua tak menganggapku ada,
Padahal aku ada disana,
Apa gunanya aku ada bila aku tak pernah dianggap?

Setiap hari kulihat mereka berlalu lalang didepanku,
Aku menyapa mereka,
Tapi mereka tak pernah membalas sapaku,
Apa gunanya aku ada disini?

Teringat lagi saat ku dulu,
Melihat diriku yang tengah berbaring lemah,
Berbaring tak bergerak,
Orang disekitarku menangis,
Aku bilang pada mereka agar tak menangis,
Tapi mereka tak mendengarku,
Mereka juga tak melihatku,
Saat itu ku bertanya,
Apakah aku sudah mati?
Pertanyaanku tak dijawab,
Aku dan ragaku sudah berpisah,
Aku menangis,
Karna ku tak bisa menghadapi kenyataan.

Tuhan, aku tak tahan menghadapi ini,
Aku ingin dilahirkan lagi,
Dilahirkan kembali sebagai gadis kecil yang mungil,
Tuhan, dengarkanlah doaku ini.
Kabulkanlah permintaanku ini.

Aku hanya meminta
Untuk dilahirkan kembali,
Hanya itu,

Aku ingin terlahir kembali...