Selasa, 31 Maret 2015

Kawan, karma masih berlaku


Kawan, karma masih berlaku

Karya : Erna Nugraheni (Awesome Girl)

Seorang gadis yang bernama Emily. Dia adalah gadis yang pendiam, sangat suka membaca, dan menjadikan buku adalah sahabatnya. Namun, sayang dia tak memiliki teman sama sekali. Banyak yang menganggapnya aneh. Ada juga yang menganggapnya kuper. Hari-harinya dilaluinya dengan datar, monoton, tak ada tawa, tak pernah bersuara. Tapi dia anak yang pintar. Dia selalu mendapatkan peringkat dua di kelasnya. Peringkat satunya diduduki oleh ketua osis. Dia pernah berharap suatu hari ia bisa mendapatkan teman untuk diajak berbicara, bersenda gurau, tertawa bersama, sama seperti yang biasa dilakukan oleh sahabat.
“Tuhan kau sudah memberikan apa yang aku mau. Kepintaran. Peringkat. Ilmu. Keluarga. Tapi semua itu belum lengkap jika aku tak memiliki teman. Tuhan... apa yang salah dalam diriku. Sehingga mereka semua menjauhiku... jika boleh aku meminta. Aku ingin memiliki teman walaupun itu Cuma seorang. Aku ingin bercanda tawa dengan dia. Aku hanya ingin memiliki teman. Tuhan... Tolong kabulkan permintaanku yang satu ini... Amiinn.” Pinta gadis itu dalam doanya. Apakah tuhan akan mengabulkan permintaan gadis itu? Tuhan pasti mengabulkan permintaan hambanya.
Suatu hari, gadis yang bernama Emily itu sedang duduk di sebuah bangku taman. Saat itu sedang musim gugur. Musim dimana pepohonan menggugurkan daunnya. Musim yang sangat indah bila dilalui bersama sahabat. Mengobrol, bersenda gurau, membicarakan topik panas, atau berbagi cerita pada saat liburan musim panas. Kala itu, gadis itu sedang menunggu kakaknya. Kakaknya bilang akan menjemputnya. Kakaknya tau kalau adiknya tak memiliki teman.
Kakaknya belum kunjung datang. Untuk menghilangkan bosan dia mengambil sebuah novel yang bergenre horror dari dalam tasnya. Dia mulai mencari pembatas, tempat terakhir kali dia membaca. Dia melanjutkan bacaannya. Dari kejauhan seorang gadis yang sepertinya sedang menunggu jemputannya juga. Melihat ke arah Emily. Dia sekelas dengan Emily. Dia ingin berteman dengan Emily. Setiap kali dia ingin berbicara dengan Emily selalu ada saja temannya yang mengajak ngobrol dia. Setiap kali dia ingin satu kelompok dengan Emily selalu ada saja yang mengajak dia untuk berkelompok dengan kelompok yang lain.
“apakah sekarang waktu yang tepat untuk berbicara dengannya?” tanyanya dalam hati. Akhirnya dia berjalan mendekati Emily dan berdiri disampingnya.
“bolehkah aku duduk disini, Emily?” tanyanya pada Emily yang mengadahkan kepala.
“Oh, tentu, Alice” jawab Emily dengan senang hati.
Lalu Alice duduk disebelah Emily.
Emily merasa gugup. Jarang sekali dia duduk dengan seseorang. Alice adalah ketua osis. Dia lebih terkenal dikalangan semua siswi yang bersekolah di sekolahnya. Alice adalah gadis yang cantik, tenang, dia juga pintar. Kenapa ya kok Alice sampai mau duduk disebelahku? Kan masih ada bangku taman yang kosong. Itu lah isi hatinya yang dari tadi kacau.
Alice memehatikan buku Horror yang dipegang oleh Emily. “itu buku yang ada di perpus kan?” tanya Alice penasaran.
“i-iya” jawab Emily gugup.
“pantas aku cari diperpus gak ada. Gak taunya di pinjam kamu. Buku itu lumayan seru loh. Aku udah pernah baca setengahnya. Horrornya gimana gitu... menegangkanlah”
“oh, iya. Kamu lagi nungguin apa kok belum pulang?” tanya Alice.
“lagi nungguin kakak aku jemput” jawab Emily.
“oh, berarti sama dong” sambung Alice.
Lalu keheningan terjadi cukup lama. Mungkin kalau dimata Alice dia sangat tidak suka keheningan. Kalau dimata Emily dia sangat menyukai keheningan. karena, dia dapat membaca buku dengan tenang. Jika, terjebak dalam keheningan biasanya dia mencari-cari topik untuk dibahas.
“oh, iya. Kamu kenapa kok jarang bicara di kelas? Kamu juga kenapa suka sendirian?” tanya Alice bertubi-tubi.
“... Ka...”
“hmn?” Alice semakin antusia memnantikan jawaban yang keluar.
“... ka..ka-karena...”
“karena apa?”
“karena aku... tidak punya teman” nada suaranya semakin mengecil di akhir kalimat.
“ satupun gak ada?”
“gak ada”
Alice menjadi prihatin dengan Emily. “Emily, mau gak kamu jadi teman aku?” tanya Alice.
“jika boleh” jawab Emily dengan disertai anggukan.
Ternyata Tuhan telah mengabulkan permintaan Emily. Mereka bersenda gurau, tertawa bersama pada saat itu hingga salah satu dari mereka dijemput. Hinga hari esok pun mereka berteman dan mereka berteman hingga suatu saat mereka harus berpisah.
Semakin lama mereka berteman. Perubahan pun terjadi. Dengan Emily berteman dengan Alice. Emily bisa mendapatkan banyak teman. Semakin banyak teman Emily semakin sombong pula dia. Dia lebih angkuh dari siapapun. Siapa yang telah meracuni otaknya? Siapakah yang tega menghasutnya. Apakah orang itu tak akan memikirkan apa yang akan terjadi.
Emily dihasut oleh orang yang membenci Alice. Namanya Sarah. Sarah sangat membenci Alice. Sarah menghasut Emily dengan cerita karanganya saja. Tujuan Sarah menghasut Emily agar Emily membenci Alice. Sehingga Alice tak ada di dekat Emily dan dia dapat memanfaatkan Emily pada saat pr, ulangan, bahkan ujian akhir semester dengan leluasa tanpa gangguan Alice.
“aku tau niat kamu Alice!” bentak Emily pada Alice yang ada didekatnya. “kamu temenan ama aku Cuma buat manfaatin aku doang kan?” tanya Emily. “biar kamu dapet nilai bagus teruskan?” sambungnya.
“itu tidak benar, ly.” Bantah Alice. “siapa yang telah menghasutmu, ly? Jujur, jawab, ly!” tanya Alice.
“tak ada yang menghasutku” jawab Emily. “jika kau mau persahabatan kita berakhir sampai disini. Ok. Silakan pergi kau tukang tiru!”
“baiklah. Kalau itu maumu, kawan. Tapi, ingat Karma masih berlaku!”
“peduli apa gue ama karma? Dijaman gini masih ada karma? Udah gak jaman kalii”
Alice pergi dari hadapan Emily. Emily tak pernah lagi berbicara dengan alice. Setiap kali Alice bersapa dengannya. Sapaan Alice tak pernah di hiraukan. Emily sepertinya sudah melupakan Alice secara total.
Sebentar lagi UTS. Alice sudah belajar dari jauh-jauh hari. Bahkan sampai keluar masuk perpus. Apa yang dilakukan Emily saat menjelang UTS. Bukannya memegang buku malah memegang handphone. Sedangkan bukunya tergeletak tak tersentuh disampingnya. Dia tak memperdulikan UTS. Dia malah asik BBM-an dengan Sarah.
:) Sarah iiimmmuueeett<3<3    21:49
Besok contek-contek ya?
Emily :) ;)     21:50
Sip dah (y)

Keesokan harinya, UTS dimulai. Soal sudah dibagikan. Di lupa kalau dia belum belajar yang satu ini. Ia mencolek Alice yang duduk didepannya. Ya karna di colek. Ya, Alice nenggok kebelakang. Sambil mendongakkan kepala ke atas sebagai isyarat dari kata ‘apa?’
“jawaban nomor 15 sampai 28 apa?” sambil bisik-bisik.
Alice hanya menaikan bahu sebagai balasan tidak tau. Bukannya Alice tidak tahu. Tapi, Alice tak ingin berbagi jawabannya pada Emily. Karena, rasa sakit hati Alice yang sekian waktu itu masih belum sembuh.
“ly, jawaban nomor 20 sampai 30 apaan?” tanya Sarah sambil bisik-bisik.
“gak tau” jawab Emily sambil bisik-bisik.
“lah kok bisa gak tau” Kata Sarah ndesu-ndesu.
Dan waktu pun telah berakhir. Hari-hari UTS sudah berlalu. Saat pengumuman nilai UTS yang mendapatkan posisi awal adalah Alice. Kali ini Emily dan Sarah menerima nilai yang rendah. Sarah mendapatkan nilai jelek itu karena Emily. Jadi, dia memusuhi Emily. Satu persatu mereka menjauhi Emily dan berpaling ke Alice. Emily tinggallah sendiri lagi. Dan dia menyadari bahwa dia terkena karma. Dia percaya karma masih berlaku sampai sekarang. Dia ingin meminta maaf kepada Alice. Namun, dia malu untuk bertemu Alice. Dia juga sempat berpikir kalau Alice gak mau memaafkannya dan mulai menjauhinya. Jadi, dia sendiri saja melewati hari-hari seperti dulu lagi. Monoton. Datar. Alice menyadari kalau Emily jadi sendiri lagi.
Diruang kelas, pada saat jam istirahat. Emily sendirian di dalam kelas. Dia menempelkan kepalanya ke meja. Sepertinya Emily sedang tidak enak badan. Alice khawatir dan duduk disebelah Emily.
“Emily kau tak apa-apa?” tanya Alice sambil mengelus kepala Emily.
Emily mengangkat kepalanya. Lalu membuka matanya. Alice menyadari mata Emily bengkak dan di sana terdapat bercak air mata. Dengan cepat Alice memeluk Emily dan berusaha untuk menenangkan Emily yang masih terisak.
Setelah isakan tangis Emily meredah. Emily mengatakan “apa yang kau katakan benar, Al. Soal karma itu benar. Maafkan aku ya... sudah terhasut oleh omongan Sarah. Maafkan aku ya, Al”
“sudah jangan dipikirkan... aku sudah memaafkanmu kok. Soal, karma itu, itu memang nyata, karma itu akan selalu ada sampai dunia ini hancur... Kita ini kan teman. sekarang senyum dong” ucap Alice sambil menarik sebuah garis senyum di bibir Emily.
“Alice. Kamu memang teman yang terbaik.” Puji Emily.
Dan persahabatan mereka pun telah utuh kembali. Mereka belajar bersama. Hingga kenaikan kelas mereka pun mendapatkan posisi berdampingan dalam peringkat. Persahabatan dapat membuat ulat menjadi kupu-kupu yang cantik. Persahabatan dapat merubah suatu yang buruk menjadi sesuatu yang indah. Itulah makna persahabatan.
Huff, bikin beginian butuh penghayatan tingkat mendalam... mungkin aku nyusun katanya masih acak-acakan.

Hii, salam kenal
Saya sengaja menulis cerita fiction. Saya hanya ingin membuktikan bahwa karma itu masih berlaku. Ini hanya fiksi. Tidaklah nyata.
Oh, iya. Saya akan mengupload cerita fiksi saya di blog ini.
Yang suka silakan, yang mau nge-share silakan. Yang mau kasih kripik (kritik) pedas juga boleh.
Dadah sampai jumpa lagi. Di cerita berikutnya.