Kawan, karma masih berlaku
Karya : Erna Nugraheni (Awesome
Girl)
Seorang
gadis yang bernama Emily. Dia adalah gadis yang pendiam, sangat suka membaca,
dan menjadikan buku adalah sahabatnya. Namun, sayang dia tak memiliki teman
sama sekali. Banyak yang menganggapnya aneh. Ada juga yang menganggapnya kuper.
Hari-harinya dilaluinya dengan datar, monoton, tak ada tawa, tak pernah bersuara.
Tapi dia anak yang pintar. Dia selalu mendapatkan peringkat dua di kelasnya. Peringkat
satunya diduduki oleh ketua osis. Dia pernah berharap suatu hari ia bisa
mendapatkan teman untuk diajak berbicara, bersenda gurau, tertawa bersama, sama
seperti yang biasa dilakukan oleh sahabat.
“Tuhan
kau sudah memberikan apa yang aku mau. Kepintaran. Peringkat. Ilmu. Keluarga.
Tapi semua itu belum lengkap jika aku tak memiliki teman. Tuhan... apa yang
salah dalam diriku. Sehingga mereka semua menjauhiku... jika boleh aku meminta.
Aku ingin memiliki teman walaupun itu Cuma seorang. Aku ingin bercanda tawa
dengan dia. Aku hanya ingin memiliki teman. Tuhan... Tolong kabulkan
permintaanku yang satu ini... Amiinn.” Pinta gadis itu dalam doanya. Apakah
tuhan akan mengabulkan permintaan gadis itu? Tuhan pasti mengabulkan permintaan
hambanya.
Suatu
hari, gadis yang bernama Emily itu sedang duduk di sebuah bangku taman. Saat
itu sedang musim gugur. Musim dimana pepohonan menggugurkan daunnya. Musim yang
sangat indah bila dilalui bersama sahabat. Mengobrol, bersenda gurau,
membicarakan topik panas, atau berbagi cerita pada saat liburan musim panas.
Kala itu, gadis itu sedang menunggu kakaknya. Kakaknya bilang akan
menjemputnya. Kakaknya tau kalau adiknya tak memiliki teman.
Kakaknya
belum kunjung datang. Untuk menghilangkan bosan dia mengambil sebuah novel yang
bergenre horror dari dalam tasnya. Dia mulai mencari pembatas, tempat terakhir
kali dia membaca. Dia melanjutkan bacaannya. Dari kejauhan seorang gadis yang
sepertinya sedang menunggu jemputannya juga. Melihat ke arah Emily. Dia sekelas
dengan Emily. Dia ingin berteman dengan Emily. Setiap kali dia ingin berbicara
dengan Emily selalu ada saja temannya yang mengajak ngobrol dia. Setiap kali
dia ingin satu kelompok dengan Emily selalu ada saja yang mengajak dia untuk
berkelompok dengan kelompok yang lain.
“apakah sekarang waktu yang tepat untuk
berbicara dengannya?” tanyanya dalam hati.
Akhirnya dia berjalan mendekati Emily dan berdiri disampingnya.
“bolehkah
aku duduk disini, Emily?” tanyanya pada Emily yang mengadahkan kepala.
“Oh,
tentu, Alice” jawab Emily dengan senang hati.
Lalu
Alice duduk disebelah Emily.
Emily
merasa gugup. Jarang sekali dia duduk dengan seseorang. Alice adalah ketua
osis. Dia lebih terkenal dikalangan semua siswi yang bersekolah di sekolahnya.
Alice adalah gadis yang cantik, tenang, dia juga pintar. Kenapa ya kok Alice sampai mau duduk disebelahku? Kan masih ada bangku
taman yang kosong. Itu lah isi hatinya yang dari tadi kacau.
Alice
memehatikan buku Horror yang dipegang oleh Emily. “itu buku yang ada di perpus
kan?” tanya Alice penasaran.
“i-iya”
jawab Emily gugup.
“pantas
aku cari diperpus gak ada. Gak taunya di pinjam kamu. Buku itu lumayan seru
loh. Aku udah pernah baca setengahnya. Horrornya gimana gitu... menegangkanlah”
“oh,
iya. Kamu lagi nungguin apa kok belum pulang?” tanya Alice.
“lagi
nungguin kakak aku jemput” jawab Emily.
“oh,
berarti sama dong” sambung Alice.
Lalu
keheningan terjadi cukup lama. Mungkin kalau dimata Alice dia sangat tidak suka
keheningan. Kalau dimata Emily dia sangat menyukai keheningan. karena, dia
dapat membaca buku dengan tenang. Jika, terjebak dalam keheningan biasanya dia
mencari-cari topik untuk dibahas.
“oh,
iya. Kamu kenapa kok jarang bicara di kelas? Kamu juga kenapa suka sendirian?”
tanya Alice bertubi-tubi.
“...
Ka...”
“hmn?”
Alice semakin antusia memnantikan jawaban yang keluar.
“...
ka..ka-karena...”
“karena
apa?”
“karena
aku... tidak punya teman” nada suaranya semakin mengecil di akhir kalimat.
“
satupun gak ada?”
“gak
ada”
Alice
menjadi prihatin dengan Emily. “Emily, mau gak kamu jadi teman aku?” tanya
Alice.
“jika
boleh” jawab Emily dengan disertai anggukan.
Ternyata
Tuhan telah mengabulkan permintaan Emily. Mereka bersenda gurau, tertawa
bersama pada saat itu hingga salah satu dari mereka dijemput. Hinga hari esok
pun mereka berteman dan mereka berteman hingga suatu saat mereka harus
berpisah.
Semakin
lama mereka berteman. Perubahan pun terjadi. Dengan Emily berteman dengan
Alice. Emily bisa mendapatkan banyak teman. Semakin banyak teman Emily semakin
sombong pula dia. Dia lebih angkuh dari siapapun. Siapa yang telah meracuni
otaknya? Siapakah yang tega menghasutnya. Apakah orang itu tak akan memikirkan
apa yang akan terjadi.
Emily
dihasut oleh orang yang membenci Alice. Namanya Sarah. Sarah sangat membenci
Alice. Sarah menghasut Emily dengan cerita karanganya saja. Tujuan Sarah
menghasut Emily agar Emily membenci Alice. Sehingga Alice tak ada di dekat
Emily dan dia dapat memanfaatkan Emily pada saat pr, ulangan, bahkan ujian
akhir semester dengan leluasa tanpa gangguan Alice.
“aku
tau niat kamu Alice!” bentak Emily pada Alice yang ada didekatnya. “kamu
temenan ama aku Cuma buat manfaatin aku doang kan?” tanya Emily. “biar kamu
dapet nilai bagus teruskan?” sambungnya.
“itu
tidak benar, ly.” Bantah Alice. “siapa yang telah menghasutmu, ly? Jujur,
jawab, ly!” tanya Alice.
“tak
ada yang menghasutku” jawab Emily. “jika kau mau persahabatan kita berakhir
sampai disini. Ok. Silakan pergi kau tukang tiru!”
“baiklah.
Kalau itu maumu, kawan. Tapi, ingat Karma masih berlaku!”
“peduli
apa gue ama karma? Dijaman gini masih ada karma? Udah gak jaman kalii”
Alice
pergi dari hadapan Emily. Emily tak pernah lagi berbicara dengan alice. Setiap
kali Alice bersapa dengannya. Sapaan Alice tak pernah di hiraukan. Emily
sepertinya sudah melupakan Alice secara total.
Sebentar
lagi UTS. Alice sudah belajar dari jauh-jauh hari. Bahkan sampai keluar masuk
perpus. Apa yang dilakukan Emily saat menjelang UTS. Bukannya memegang buku
malah memegang handphone. Sedangkan bukunya tergeletak tak tersentuh
disampingnya. Dia tak memperdulikan UTS. Dia malah asik BBM-an dengan Sarah.
:) Sarah iiimmmuueeett<3<3 21:49
Besok contek-contek ya?
Emily :) ;) 21:50
Sip dah (y)
Keesokan
harinya, UTS dimulai. Soal sudah dibagikan. Di lupa kalau dia belum belajar yang
satu ini. Ia mencolek Alice yang duduk didepannya. Ya karna di colek. Ya, Alice
nenggok kebelakang. Sambil mendongakkan kepala ke atas sebagai isyarat dari
kata ‘apa?’
“jawaban
nomor 15 sampai 28 apa?” sambil bisik-bisik.
Alice
hanya menaikan bahu sebagai balasan tidak tau. Bukannya Alice tidak tahu. Tapi,
Alice tak ingin berbagi jawabannya pada Emily. Karena, rasa sakit hati Alice
yang sekian waktu itu masih belum sembuh.
“ly,
jawaban nomor 20 sampai 30 apaan?” tanya Sarah sambil bisik-bisik.
“gak
tau” jawab Emily sambil bisik-bisik.
“lah
kok bisa gak tau” Kata Sarah ndesu-ndesu.
Dan
waktu pun telah berakhir. Hari-hari UTS sudah berlalu. Saat pengumuman nilai
UTS yang mendapatkan posisi awal adalah Alice. Kali ini Emily dan Sarah
menerima nilai yang rendah. Sarah mendapatkan nilai jelek itu karena Emily. Jadi, dia
memusuhi Emily. Satu persatu mereka menjauhi Emily dan berpaling ke Alice.
Emily tinggallah sendiri lagi. Dan dia menyadari bahwa dia terkena karma. Dia
percaya karma masih berlaku sampai sekarang. Dia ingin meminta maaf kepada
Alice. Namun, dia malu untuk bertemu Alice. Dia juga sempat berpikir kalau
Alice gak mau memaafkannya dan mulai menjauhinya. Jadi, dia sendiri saja
melewati hari-hari seperti dulu lagi. Monoton. Datar. Alice menyadari kalau
Emily jadi sendiri lagi.
Diruang
kelas, pada saat jam istirahat. Emily sendirian di dalam kelas. Dia menempelkan
kepalanya ke meja. Sepertinya Emily sedang tidak enak badan. Alice khawatir dan
duduk disebelah Emily.
“Emily
kau tak apa-apa?” tanya Alice sambil mengelus kepala Emily.
Emily
mengangkat kepalanya. Lalu membuka matanya. Alice menyadari mata Emily bengkak
dan di sana terdapat bercak air mata. Dengan cepat Alice memeluk Emily dan
berusaha untuk menenangkan Emily yang masih terisak.
Setelah
isakan tangis Emily meredah. Emily mengatakan “apa yang kau katakan benar, Al.
Soal karma itu benar. Maafkan aku ya... sudah terhasut oleh omongan Sarah.
Maafkan aku ya, Al”
“sudah
jangan dipikirkan... aku sudah memaafkanmu kok. Soal, karma itu, itu memang
nyata, karma itu akan selalu ada sampai dunia ini hancur... Kita ini kan teman.
sekarang senyum dong” ucap Alice sambil menarik sebuah garis senyum di bibir
Emily.
“Alice.
Kamu memang teman yang terbaik.” Puji Emily.
Dan persahabatan mereka pun telah utuh kembali. Mereka belajar
bersama. Hingga kenaikan kelas mereka pun mendapatkan posisi berdampingan dalam
peringkat. Persahabatan dapat membuat ulat menjadi kupu-kupu yang cantik.
Persahabatan dapat merubah suatu yang buruk menjadi sesuatu yang indah. Itulah
makna persahabatan.
Huff,
bikin beginian butuh penghayatan tingkat mendalam... mungkin aku nyusun katanya masih acak-acakan.
Hii, salam
kenal
Saya
sengaja menulis cerita fiction. Saya hanya ingin membuktikan bahwa karma itu
masih berlaku. Ini hanya fiksi. Tidaklah nyata.
Oh,
iya. Saya akan mengupload cerita fiksi saya di blog ini.
Yang
suka silakan, yang mau nge-share silakan. Yang mau kasih kripik (kritik) pedas
juga boleh.
Dadah
sampai jumpa lagi. Di cerita berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar